Kerajinan Tradisional WBTB Warisan Budaya Takbenda Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya

Poya

Poya merupakan seni pahat perahu tradisional masyarakat Desa Ibalatmumtah, Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya. Bagi masyarakat setempat, Poya bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kehidupan, perjalanan leluhur, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Diperbarui 04 Agustus 2026 3 menit baca
Poya
Tentang Objek Budaya

Poya

Sejarah

Poya merupakan seni pahat perahu tradisional masyarakat Desa Ibalatmumtah, Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya. Bagi masyarakat setempat, Poya bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kehidupan, perjalanan leluhur, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam mitologi masyarakat Masela, Poya melambangkan pelayaran para leluhur yang bermigrasi dari satu wilayah ke wilayah lain hingga menetap di Pulau Masela. Karena itu, proses pembuatannya dipandang sebagai sebuah kelahiran. Sebagaimana seorang anak yang lahir dan menjadi harta paling berharga dalam keluarga, sebuah Poya juga dianggap memiliki kehidupan yang dimulai melalui penyatuan unsur laki-laki dan perempuan yang diwujudkan dalam struktur perahu.

Salah satu bagian terpenting adalah lunas perahu, yang melambangkan unsur perempuan. Kayu lunas diambil dari bagian pangkal pohon yang berakar kuat di tanah sebagai simbol Ibu Pertiwi, sumber kehidupan dan kesuburan. Pandangan ini menunjukkan bahwa masyarakat Masela tidak hanya memandang perahu sebagai benda, tetapi sebagai representasi hubungan manusia dengan alam yang harus dihormati.

Keunikan lainnya terlihat pada ukiran kepala anjing di bagian haluan Poya. Dalam kepercayaan masyarakat, anjing melambangkan kewaspadaan, keberanian, dan kemampuan melacak musuh melalui penciumannya. Simbol ini mencerminkan semangat leluhur dalam menjaga wilayah, melindungi komunitas, dan menghadapi berbagai tantangan selama pelayaran. Sebagai masyarakat bahari, kehidupan orang Masela tidak dapat dipisahkan dari laut. Poya menjadi sarana utama untuk berlayar, mencari nafkah, berdagang, serta mempererat hubungan kekerabatan antarpulau. Melalui pelayaran, terjalin hubungan sosial, pertukaran budaya, dan solidaritas yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat kepulauan.

Poya dibuat dari kayu okna, kayu lokal yang dikenal kuat dan tahan terhadap kondisi laut. Keahlian memilih bahan, memahat, dan merakit perahu diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat Masela. Hingga kini, Poya tetap menjadi simbol kejayaan budaya bahari masyarakat Pulau Masela. Tradisi ini tidak hanya menunjukkan kecakapan teknologi lokal, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam, serta penghargaan kepada leluhur yang membentuk identitas budaya masyarakat Maluku Barat Daya.

Nilai Budaya

  • Nilai Bahari – Mencerminkan kehidupan dan budaya maritim masyarakat Masela.

  • Nilai Leluhur – Menghormati warisan dan perjalanan nenek moyang.

  • Nilai Kearifan Lokal – Mewariskan pengetahuan tradisional dalam seni pahat perahu.

  • Nilai Harmoni Alam – Menghargai alam sebagai sumber kehidupan dan bahan utama pembuatan Poya.

  • Nilai Kebersamaan – Memperkuat hubungan sosial dan solidaritas antar masyarakat kepulauan.

  • Nilai Identitas Budaya – Menjadi simbol jati diri masyarakat Pulau Masela.

Kondisi Terkini

Masih dilestarikan sampai sekarang.

Zona Integritas

"Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku: TOMA MAJU, BERBUDAYA!"

Transparan, Objektif, Melayani dan Akuntabel