Rofaer War
Sejarah
Rofaer War, atau lebih dikenal sebagai Upacara Cuci Perigi, merupakan salah satu tradisi sakral masyarakat adat Negeri Lonthoir di Pulau Banda Besar, Kabupaten Maluku Tengah. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini dilaksanakan setiap 7–10 tahun sekali sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya menjaga nilai-nilai adat, sejarah, dan spiritual masyarakat Banda.
Pusat pelaksanaan ritual adalah sebuah perigi (sumur) keramat yang diyakini memiliki hubungan erat dengan sejarah masuknya Islam di Kepulauan Banda. Menurut tradisi lisan, sumur tersebut ditemukan oleh seorang ulama dari Timur Tengah yang sedang mencari sumber air untuk berwudu ketika menyebarkan ajaran Islam di Banda. Sejak saat itu, perigi dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah dan kesakralan bagi masyarakat setempat.
Prosesi Rofaer War diawali dengan penjemputan para tetua adat dari Negeri Kampung Baru oleh masyarakat Negeri Lonthoir. Sebagai bentuk penghormatan, para tetua adat diusung menggunakan kursi khusus sehingga kaki mereka tidak menyentuh tanah. Tradisi ini mencerminkan tingginya penghormatan masyarakat terhadap pemimpin adat dan warisan leluhur.
Puncak upacara adalah pembersihan perigi yang dilakukan secara gotong royong oleh 88 orang, masing-masing terdiri atas 44 perwakilan Negeri Lonthoir dan 44 perwakilan Negeri Kampung Baru, yang merupakan keturunan para leluhur adat. Selama prosesi berlangsung, ritual diiringi lantunan kapata, syair tradisional yang memperkuat suasana sakral dan menjadi media pewarisan sejarah serta nilai budaya.
Bagi masyarakat Banda, Rofaer War bukan sekadar kegiatan membersihkan sumber mata air. Tradisi ini melambangkan penyucian diri, pemulihan keseimbangan kehidupan, serta penguatan persaudaraan antarwarga. Karena hanya diselenggarakan dalam rentang waktu yang panjang, upacara ini menjadi peristiwa budaya yang sangat dinantikan. Banyak masyarakat Banda yang merantau sengaja pulang ke kampung halaman untuk mengikuti dan menyaksikan ritual tersebut. Hingga kini, Rofaer War tetap menjadi simbol identitas budaya masyarakat Banda sekaligus bukti kuatnya nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan keberlanjutan tradisi di Maluku.